Kamis, 14 November 2013

hampa

Semua orang mengacuhkanku hari ini. Entah apa yang terjadi. Seingatku, aku mengatakan apa yang aku rasa. Aku tidak yakin ada yang mendengarkannya.

Sapaan kemarin sore itu hampa. Kita ada dalam frekuensi yang berbeda.

Namun bagiku, "percuma saja aku menyatakan sesuatu kalau tidak didengar". Hatiku berbisik sesuatu, “dia aneh. Aku ga suka sama dia.”

Mana ada orang yang mengucapkan sesuatu tanpa dia mengerti untuk apa dia bicara?

Kemudian, kenapa dia terlihat serius mengucapkannya. Matanya menatap fokus yang jelas. Aku.

Perasaanku kacau. Aku tidak mau ketemu dia lagi. tidak nyaman.


Berhari-hari tidak ketemu semuanya. Aku hanya menjalani mauku. Seminggu sudah aku lari dari kenyataan. Banyak yang merasa aku serius dengan yang aku ucapkan. Dan seketika saja, tidak ada lagi yang simpatik. Aku menyelamatkan hati. merenung. tetap saja aku muak. mereka bertindak bodoh. Bodoh karena pandangannya sempit. Referensinya kurang. aku mencoba untuk berdamai dengan caraku.

sapaan

Hatiku riang..

And from the very first time I saw your face

I knew I was satisfied

You were talking so sweet, I had to taste

Irama Carly Rae Jepsen mengisi hariku saat ini. Entah aku menemukannya kembali. Mungkin juga dia menghampiriku tanpa aku duga. Senyumnya manis. Sapaanya santun menghambur dari mulutnya. 

Ekspektasikunya sesuai mimpi. Tatapan manis darinya membuatku ingin memperkerjakan kamera DSLR yang menggantung di leherku. Keinginan mengabadikan setiap lekuk senyumnya membuatku tidak ragu.

Taburan kilatan blitz tidak membuatnya canggung. Hanya dia yang aku pedulikan saat ini. Permintaannya hanya, mengirimkan hasilnya ke email yang tertera pada kartu nama yang kuterima.

***

segenggam mimpi menyegerakanku untuk kembali pada kenyataan.

Rabu, 13 November 2013

kesalku

Dia tak lagi menyapaku. Kamu mendiamkanku sekian lama. Aku merasa perih setiap kali dia melihatku. Aku merasa bukan siapa-siapa. Dulu dia pernah jadi temanku. Setidaknya, dia selalu dikelilingi teman-temanku. Aku tau, aku tidak biasa. Namun aku hanya menyapa yang aku kenal.

Kecemburuannya membuatku disia-siakan. Urusanku terbengkalai. Dua tahun aku menunggu keajaiban. Aku kira, dia membuat hidupku mudah. Aku pikir dia benar-benar mendukungku.

Suaraku tak lagi menyapanya bersahabat. Aku tak kuasa menahan rasa kesalku. Tidak ada riang tawaku mengenai kami.

“Makan tuuu lidah!”


Aku tak yakin dia mengatakan itu. Setelah kau akrab mencurahkan semua perasaanmu. Dia menghardiku, aku merasa ada geledek di siang bolong. Aku terhina. Tidak akan pernah kembali untuk bersama. 

kami

Aku mengenalnya baru siang ini. Dia merasa.. aku mengenalnya di masa lalu. Kami berbicara panjang lebar, layaknya teman akrab. Pikiranku mencair. Suaranya menenangkanku.  Aku hampir lupa mengenai perasaan ini. Dia mengajakku merasakannya kembali bersamanya.

Sungguh! Dia baru saja mengenalku. Wajahnya pun aku lupa. Namun, kata-katanya barusan, menghanyutkanku mengenai sosoknya yang selalu saja ragu mendekatiku sejak pagi. Aku yang berulah untuk menyapanya. Tak kusangka, dia perhatian padaku. Khawatir aku tidak makan setelah setengah hari jadi fotografer.

Kami bertemu tadi pagi saat aku masih menyapu rumah tanteku. Aku pikir dia tamu keluarga dekat.

Aku memandikan tiga bocah. Berlari ke sana kemari. Tak kuhiraukan matanya mengawasiku. Hanya kupingnya saja yang aku tau dia sedetail matanya.

klepto

Dia tersesat dalam lamunanku. menggigil. pucat pasi. Semburat warna wajahnya memerah. Tak kusangka dia membuat pengakuan.

“Mbak!”

Aku diam saja. Aku enggan menganggapi gossip kali ini. Entah aku yang menang atau aku sedang dibujuk. Seluruh orang jadi perhatian padaku.

“Menurutmu siapa pelakunya?”

Memikirkan sebentuk wajahnya saja aku tak sudi. Hapeku tertinggal di meja ini. Semenit saja kepala kantorku menghampiri kami di ruanganku. Tapi dia tertawa terbahak mengenai di kantor ini ada yang klepto.

Dua tahun lalu kejadiaannya. Aku pergi nonton dengannya. Pergi terburu-buru dan saat aku di meja pada pagi yang sama, hapeku sudah hilang.

Aku tak mau membahasnya kini. Dua bulan aku termenung dibuatnya. Dia mengingatkanku pada kejahatanya di masa lalu.

“Kamu”

Dia mencoba nebak jawabku.

“Aku?”

 Aku survey pelaku dari dari daftar absen. Dan kamu masih anak baru waktu itu. Aku kira mengenalmu dengan baik. Kata-kataku tak lagi manis. Kami menjadi rengang dan aku tak peduli.


Senin, 11 November 2013

balon mimpi

Aku mengenalnya cukup lama. Selama bekerja dengannya membuatku berpikir. Memikirkan mengenai perencanaan kegiatan untuk setahun, mengatur siklus uang dan rincian pekerjaan tiap bulannya. Kami satu tim 5 orang, seorang bagian administrasi. Pekerjaan itu ada yang seringnya diluar, yang lainnya perekayasa untuk tampilan image visual yang kami hasilkan nanti. Seandainya pekerjaan ini indah..ada reward yang akan menunggu.


Ikut ajang event populer, pelatihan, atau outing ke luar negri. Mimpi itu sudah aku sampaikan pada langit dan angin yang seringnya menemani. Dipertengahan perjalanan.. tim kami pecah. Senior ini mengancurkan semua mimpi. Dia hanya mau menerima uang tanpa mau berproses. Minta di depan. pekerjaan belum selesai. Survey berantakan. Reward akhir tahun ga mungkin. Cuma ngejar laporan saja 

Rabu, 06 November 2013

simulasi

Dia jahat! Sejak perpisahan kita kemarin dia hanya melambungkan khayalan ABG labil. Aku tidak menghiraukannya. Hanya dengan latihan terus menerus aku menjalani apa yang harus aku jalani. Tugasku menumpuk. Ada beberapa pasang mata yang menunggu keberhasilanku. Hanya karena aku ingin, aku yakin punya kesempatan.

Bertanya bukan lagi yang seharusnya aku lakukan. Aku hanya perlu kesungguhan untuk terus melakukannya. Pertahanan tubuhku di malam hari tak kuhiraukan. Stamina menulisku harus prima. Sebelum menulis, aku harus tahan menatap barisan kata-kata sulit. Mendengarkan bagaimana orang mengucapkannya.  Dan aku tau bukan pemborosan jika aku rajin untuk sempurna.


Kertas latihanku berminggu lalu kubaca lagi. Entah angin apa mengenai kecepatan ini. Selembar demi lembar aku membacanya. Hatiku terluka 

tiket masuk

Aku lesu. Khayalanku tentang dia memburam. Seperti hati yang berharap tidak memperhitungkan pengalaman. Selesai olahraga pagi itu, aku menghampirinya. Aku tau ada yang salah dengan pikiranku. Telfon kemarin sore seperti memintaku untuk bilang “ayo! Coba lagi” macam kutipan dibalik Nu-Green-tea sajha..

Aku terlambat sampai. Semua orang sudah memenuhi lintasan ini. Aku mengundurkan diri tak jadi ikut. Tentu saja ke loket pendaftaran pusat bahasa. Begitu rencanaku selanjutnya. Aku menanyakan jadwal ujian terdekat.

Sebelum tanggal 22, hari ini yang terdekat. Minggu depan ujian dilaksanakan. Aku mengaduh namun aku cukup bahagia dengan keputusan ini. Aku punya waktu untuk simulasi.


Seminggu kemudian aku menjalani tes yang sama, namun yang ini sangat mahal. Biayanya bisa buat hidup sebulan 

move in


semua yang aku tau tentang dia cukup sudah. . entah apa yang terjadi. momentum ini kupelajari saat SMA. Merenungi proses teori momentum itu sendiri, pikiranku menerawang ke limabelastahun lalu. Saya mengeja percakapan kami. ruang itu sekarang sepi. sama seperti prasasti usang. passion, pertanda baik, namun tetap saja kenyataannya.. apa yang aku harapkan? Hancur berkeping? Bukan! aku mengharapkan kau menyatukan kembali kepingan itu.


Pilihan? Aku harus memilih apa? Data empirisku menyatakan kami saling menemukan tapi dalam dunia maya - yang terpisah dalam ribuan kilometer. Aku tau rasaku dan rasanya berkelibat tak tentu arah pada tujuan kami. Sebuah perjanjian? Kami tidak menjanjikan apa-apa. Khayalanku, angan-anganku, semangat hidupku.. membumbung menyentuh langit biru

miss you

hampir dipenghujung tahun. Lama aku tidak mendengar kabar darinya. Tepat setahun berlalu. aku meminta diriku untuk tenang dan sabar. Sabar? runtukku dalam hati. Enak saja dia. Hati dan pikiranku berperang. Pikiranku menghadik, “kamu ga pernah belajar dari pengalaman yaa!” Dan Hatiku menjawab tak kalah sengit, “walaupun aku cidera, aku masih mau menerimanya,” – sungguh, romantisme macam apa ini?


Teknologi canggih tidak merubah sesuatu, pikirku. Aku berniat move on. sepupu tersayang memintaku membuka hatiku untuk yang lainnya. Dia yang kutunggu menghampiri saat aku memulai dengan yang baru. Harapanku untuknya masih mengaduh. Tirai untuknya menerawang tak tentu.


Kini dia benar-benar hadir dengan sejumlah teman-teman kami. Hatiku lebam. Kusandarkan harapanku pada-Nya. Aku masih tersedu pilu.

Selasa, 05 November 2013

Puncak Itu



Siang itu aku ketemu sama dia. Awalnya, sok kenal aja, kita kenalan di acara naik gunung tertinggi yang tracknya subhanallah..


“Hai! mau ke mana?”


“Balik ya.. Istirahatnya udah.”


“kapan ke sini lagi?”



Uhmmm sambil menyebut semua nama hari, aku kikuk dihadapannya.Dan pertemuan kita tidak pernah direncanakan seperti halnya teman akrab. ada rasa gembira, di hari lainnya aku menunggu waktu. detik yang membisu kubiarkan saja. berusaha mengingatmu dalam hitungan waktu. seolah hariku menghilang seperti menunggu jemuran kering.


Setiap malam, tidurku jadi berkurang. Berbicara denganmu menyenangkan sekali. Aku bilang aku butuh chemistry. Dia bilang, "kayak ilmuwan aja.. ngomongin urusan laboratorium”. Aku cari pria humoris, keren dan.. Dia bilang, aku cari wanita yang bisa kupuja.. hangat dalam dekapanku.



jejak kubikel - soniadoraemon/

anggi_uniench@twitter

dibalik cuaca



Wah, cowok keren. Begitu sekilas aku kenal dia. Maklum, yang begini biasanya ga kelayapan.
"Ga ketemu sama aku sebenarnya .. di waktunya lalu-lalu"..
Kita pernah ketemuan sebelumnya, dia temennya temen.



Cantik dan chastity.
"Kemana aja siyy bidadari langit ini?"
"Kamu sakit, ga? Kamu jatuh dari langit ke hati aku".
Rayuan gombal sama curhat susah ngebedainnya. Nanya ini-itu. kadang kedewasaanku membuat dia senang berada di lingkungan kami. Diantara teman-temanku.



Kita menjalani hari demi hari. Sampai akhirnya langit cerah berangsur mendung. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Dia sibuk mencari dan menungguku di tempat itu. Tempat kita dipertemukan. Diantara malam bertabur bintang di angkasa. Kadang diantara dinginnya lanina yang menusuk. Kemudian kulipat saja pesanku jadi perahu. Membiarkannya bermuara entah ke mana. Hingga musim berganti. Dan aku mengujinya dengan kesungguhan hati


tema : jejak kubikel - soniadoraemon/
anggi_uniench@twitter